Langsung ke konten utama

Lima



 semuanya adalah pita-pita yang ku ikat di pohon depan rumah seorang asing

 #1
Aku menggambar jejak dari bayanganmu yang tertinggal saat kau pamit pergi mengembara
                                Katamu Utara, mencari resah, mencari desah
Kutiupkan ruh pada jejak-jejak itu, sehingga aku tak bisa lagi melihat bahteramu, sungai yang melenyapkan aroma tubuhmu


#2
Aku menggambar harapan berdasarkan siluet tubuhmu, karena aku tahu tak ada doa yang lebih megah selain melihatmu pulang membawa daun kuning yang kau petik di tengah musim
Kubentuk angan-angan dari senyummu , lalu kukecupkan pada bibir-bibir asing
                                Aku selalu berharap kelak bibir-bibir itu berubah menjadi bibirmu, agar aku tak perlu lagi berebut mengecup bibirmu dengan angin pantaimu


#3
Tak ada yang kugenapi selain menara pasir yang kubangun di gigir pantai dimana kita pernah berbaring terlentang, menitipkan nama kita pada bintang-bintang
Tak ada yang kaugenapi selain mimpi-mimpi siang, dimana kulihat bibirmu beradu dengan waktu, melafalkan mantra-mantra penghapusanku
                                                                                                                        Surabaya, 4 Januari 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setoran Hari Raya

Hari Raya memang hanya setahun sekali, tapi sesak yang dibawanya bisa terasa hingga hari raya berikutnya. Hari Raya adalah saat dimana kita hanya dihadapkan pada dua pilihan, setor prestasi atau mati. Aku ingat, hari raya beberapa tahun lalu, saat aku dan sepupu-sepupu masih duduk di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah. Kala itu, prestasi seorang bocah diukur dari urutan nilai-nilai mata pelajarannya di kelas. Tak ada yang mengukur prestasinya dari seberapa banyak buku yang dibacanya atau seberapa banyak ia membantu orangtuanya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan muka orangtua adalah dengan ranking dan nilai rapor. Ada jalan lain untuk menyelamatkan muka jika prestasimu sedang tidak bagus ketika sedang di-hisab di hari raya. Mengemis pemakluman. Seperti yang kulakukan sekali dulu, diwaktu hari raya saat aku duduk di tahun pertama Sekolah Menengah. Aku tak bernafsu bercerita panjang lebar mengenai hal ini, mengenai caraku mengemis pemakluman. Singkatnya, aku berkata bahwa aku se...

Dari dalam Gua

Kututupi bulan dengan dedaunan   lalu malam semakin senyap tanpa jejak hujan Aku hanya bisa menghadirkan sepotong demi sepotong waktu tua Seperti kemarin, ketika kukuliti kerikil-kerikil tajam dengan luka Memang mataku tak hijau dan kerudungku tak (lagi) merah  dan jalanan serta lelampunya tak lagi menyala  namun aku masih manusia Perempatan itu telah menjadi imaji atas mimpi dinding-dinding batu yang melingkupi tertawa puas dengan wajah pasi      bias pelangi Lalu menyanyikan lagu tentang sang Ratih Kututupi bulan dengan dedaunan lalu malam semakin kelam tanpa jejak hujan