Langsung ke konten utama

Dear, John

Gurat senyum yang sama, garis wajah yang sama, cara tertawa yang sama, aroma tubuh yang sama, kelembutan yang sama. Mungkin Tuhan tengah menguji sekaligus menghukumku karena pernah menyiksamu dengan cinta yang tak mungkin. Ia kini balik menyiksaku dengan sosokmu yang berdiri dekat, namun tak tergapai. Kukenal, tapi begitu jauh. Kucintai setengah mati, tapi begitu tiada. Kepedihan yang kulemparkan kepelukanmu berabad lalu kini menemukan jalan pulang ke dadaku. Air matamu yang kutumpahkan dulu kini memutar dan jatuh dari mataku. Aku mencintaimu, ternyata masih sangat mencintaimu, aku menyadarinya karena tiba-tiba aku mencintainya. Sedalam dan segawat itu. Sesakit itu. Sesesak itu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Jika mencintaimu adalah nyala api, maka akan kutenun selimut darinya. Biar hangus tubuhku. Biar lantak tulangku. Biar habis aku. Biar kau dan dia tahu, aku sehancur itu mencintaimu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima

  semuanya adalah pita-pita yang ku ikat di pohon depan rumah seorang asing   #1 Aku menggambar jejak dari bayanganmu yang tertinggal saat kau pamit pergi mengembara                                 Katamu Utara, mencari resah, mencari desah Kutiupkan ruh pada jejak-jejak itu, sehingga aku tak bisa lagi melihat bahteramu, sungai yang melenyapkan aroma tubuhmu #2 Aku menggambar harapan berdasarkan siluet tubuhmu, karena aku tahu tak ada doa yang lebih megah selain melihatmu pulang membawa daun kuning yang kau petik di tengah musim Kubentuk angan-angan dari senyummu , lalu kukecupkan pada bibir-bibir asing                                 Aku selalu be...

Daftar Kesedihan

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering tiba-tiba merasa sedih. Parahnya, beberapa kesedihan tidak dapat saya pahami. Mungkin dengan menuliskan dan membuat daftarnya saya bisa setidaknya memahami hati sendiri. Maka maafkan, jika post kali ini sendu mendayu-dayu macam lagu melayu. However, here we go 1. Sedih karena kuliah nggak selesai-selesai. Saya bahkan bingung harus mulai darimana. Mau begini tak enak, begitu tak nyaman. Maksudnya, mau ketemu dosen sungkan, tak mau bertemu tapi butuh bantuan. 2. Sedih karena mama diteror orang-orang dengan pertanyaan: Kapan mbak Intan nikah?. Ah kampretlah. Kalau pengen saya nikah, duhai ibu-ibu dan bapak-bapak yang budiman, bawakanlah saya lelaki mapan seiman sayang keluarga dan mau menerima saya apa adanya. Hari itu juga nikah ayo aja. Kampret. Hush. 3. Sedih karena seseorang yang tiba-tiba datang, tiba-tiba menghilang. Ah tapi inipun kesedihan yang sudah begitu saya hafal. Saya hanya berekspektasi terlalu tinggi kali ini. Saya kira s...

jengah

oh, halo. sudah cukup lama aku tidak menuliskan sampah-sampah yang berserakan di pikiranku sehingga kini aku lumayan bimbang untuk memulai dari mana. ba ik lah. ini dia hidup telah meniup perahuku jauh dari tujuan yang telah kurencanakan semula, tujuan yang dulu pernah kupertimbangkan masak-masak dengan menghitung arah angin dan kecepatan gelombang. hidup sedang bersekongkol dengan waktu sehingga aku kini terasing dari tujuan mulaku. pantaiku telah terlepas dari jangkauan penglihatanku dan kini perahuku masih gamang menentukan arah kemudinya untuk kemudian melihat dermaga-dermaga lain. aku kini tengah menjadi apa yang telah kuidamkan sejak lama, menjadi seorang barista. menjadi barista sebenarnya telah kuperhitungkan sejak lama, sejak hidup meniup perahuku ke arah Surabaya. yang tidak kuperhitungkan adalah perubahan-perubahan yang harus kubuat demi agar perahuku tetap melaju. keterasingan aku kini bahkan terasing dari diriku sendiri. aku sedang tidak benar-benar tahu apa yang...